6 Jun 2017

Budaya Unik Saat Ramadhan Bukan Hanya Milik Indonesia, Simak Tradisi Ramadhan di 7 Negara Ini

Saat bulan Ramadhan tiba, kamu pasti mengenal beberapa tradisi ramadhan yang ada di Indonesia. Bagaimana di luar negeri? Di beberapa negara dengan penduduk muslim yang banyak, tradisi mereka pun tidak kalah unik. Ini dia 7 tradisi unik yang menarik kamu ketahui!
Di berbagai kota di Indonesia, kamu pasti familiar dengan tradisi-tradisi saat bulan Ramadhan. Kamu pasti tidak asing dengan berburu takjil yang manis atau gurih Kamu juga pasti mendapat undangan untuk berbuka bersama dari teman. Mungkin kamu juga tertarik berbuka di masjid yang menyediakan menu berbuka puasa dalam jumlah besar demi mengejar pahala. Kamu juga merasa belum afdol melewati bulan Ramadhan bila belum pernah Sahur on The Road. Tradisi-tradisi itu selalu dilakukan ramai di Indonesia saat bulan Ramadhan. Bukan hanya di Indonesia, tradisi-tradisi unik saat bulan Ramadhan juga ada di negara lain. Tradisi-tradisi inilah yang membuat bulan Ramadhan selalu spesial di negara lain di dunia. Misalnya, roti pide di Turki. Roti ini hanya dikonsumsi saat bulan Ramadhan. Roti pide menjadi santapan wajib untuk berbuka puasa di Turki. Selain makanan, ini 7 budaya saat bulan ramadhan di berbagai negara di dunia.

1. Meriam Ramadhan, Mekkah Arab Saudi

pic credit: voanews.com
Bila di Indonesia waktu berbuka ditandai dengan bunyi adzan atau bedug, lain halnya di Mekkah, Arab Saudi. Di kota suci ini, waktu berbuka ditandai dengan ledakan meriam. Meski terdengar menyeramkan, meriam ini merupakan budaya yang selalu ada di bulan Ramadhan. Bila kamu berada di dekat Masjidil Haram saat bulan Ramadhan, bunyi meriam yang melepaskan peluru terdengar cukup jelas. Selama 50 tahun terakhir, bunyi meriam inilah yang menjadi tanda masuknya waktu berbuka. Latar belakang dipakainya meriam sebagai penanda waktu berbuka, adalah ketersediaan listrik yang saat itu belum merata di Mekkah. Oleh karena itu, dipilihlah meriam karena bunyi yang ditimbulkan bisa terdengar hingga cukup jauh. Meski kini ketersediaan listrik sudah merata, budaya meriam ini tetap dipertahankan. Kalau budaya ini diterapkan di Indonesia, bagaimana menurutmu?

2. Membersihkan Diri dengan Air Gua, Bosnia

pic credit: tauhidblog.blogspot.com
Warga di Bosnia percaya membersihkan diri di air gua menjelang bulan Ramadhan akan membawa berkah tersendiri. Air gua yang dipakai untuk membersihkan diri memang terkenal masih alami dan bersih. Bahkan, tradisi ini diikuti oleh sebanyak 30.000 warga. Gua ini terletak di Kladanj, sekitar 50 km dari Sarajevo.

3. Waktu Berbuka dan Sahur Ditandai dengan Bunyi Lodra, Albania

pic credit: suaramerdeka.com
Albania merupakan salah satu negara di Eropa dengan jumlah penduduk muslim yang cukup banyak. Oleh karena itu, Albania juga memiliki tradisi saat bulan Ramadhan tiba. Bila kamu sering mendengar bunyi kentungan saat sahur, hal ini tidak jauh berbeda seperti di Albania. Pada waktu menjelang berbuka dan sahur tiba, beberapa orang akan menabuh Lodra, sejenis gendang dari kulit kambing. Lodra terdiri dari dua gendang dengan suara yang berbeda. Penabuh Lodra biasanya masyarakat Gibsi dan mendapatkan upah atas pekerjaan membangunkan orang sahur tersebut. Kalau di Indonesia menabuh kentungan digaji, apakah kamu berminat untuk menjadi penabuh kentungan?

4. Buka Puasa Massal di Palestina

pic credit: baitulmaal.org
Di Palestina, berbuka puasa bersama-sama merupakan sebuah tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Di satu tempat, terdapat hingga 3000 orang untuk berbuka puasa bersama. Menu khas di Palestina adalah Falalel. Falalel merupakan makanan ringan yang terbuat dari kacang Arab yang digiling kemudian dipadatkan, lalu dibentuk bola-bola. Meskipun Falalel dimasak dengan cara digoreng, akan tetapi Falalel memiliki cita rasa yang manis.

5. Fanous, Festival di Mesir

pic credit: tandapagar.com
Fanous merupakan festival lentera tradisional Mesir yang dipakai sebagai dekorasi saat Ramadhan. Lentera itu biasa dipasang di jalan-jalan, di depan rumah, atau di depan toko. Pada zaman dahulu, lentera digunakan sebagai alat penerangan untuk ke masjid karena listrik belum tersedia seperti saat ini. Saat festival Fanous berlangsung, biasanya yang membawa lentera-lenteranya adalah anak-anak.

6. Memakai Kohl di India

pic credit: update.ahloo.com
Kohl, atau celak biasa dipakai oleh wanita untuk mempertajam mata. Akan tetapi, sebagai tradisi menyambut bulan Ramadhan, pria-pria di India memakai kohl sebagai tradisi menyambut bulan Ramadhan. Hal ini adalah tradisi yang sudah turun temurun dilakukan di India. Selain itu, India juga memiliki makanan khas yang biasa disantap saat berbuka dan sahur. Makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat India saat Ramadhan adalah bihun dan ganghui. Ganghui merupakan sup yang terbuat dari terigu, beras, dan potongan daging.

7. Belanja di Pasar Shorja di Iraq

pic credit: themalaymailonline.com
Pasar Shorja merupakan pasar yang sangat terkenal di Baghdad. Pasar yang sudah berusia 400 tahun ini akan kebanjiran pembeli setiap bulan Ramadhan tiba. Pasar ini buka dari sore hingga malam. Pasar Shorja menyediakan kebutuhan masyarakat di bulan Ramadhan. Dari bahan mentah untuk membuat makanan khas Iraq hingga kebutuhan pokok. Semuanya tersedia di pasar ini. Selain itu, pada siang hari, umumnya ada sejenis permainan yang akan dimainkan oleh pria-pria Iraq. Permainan ini bernama mheibis, atau permainan cincin. Peserta harus menutupi seluruh tangan dengan selimut. Sebuah cincin diberikan kepada seorang peserta dan peserta lain harus menebak di tangan siapakah cincin tersebut dipasangkan.
Terbukti, bukan hanya Indonesia yang memiliki banyak tradisi saat bulan Ramadhan tiba. Hal ini membuktikan muslim di dunia sangat antusias menyambut bulan Ramadhan. Tradisi mana yang paling kamu sukai?

12 Tradisi Unik Bulan Ramadan yang Hanya Ada Di Indonesia

ramadhan

Bulan Ramadhan segera tiba. Berbagai macam tradisi dilakukan untuk menyambut bulan puasa di Indonesia. Simak 12 tradisi unik Ramadhan yang membuat bulan puasa istimewa di Indonesia!


Kedatangan bulan Ramadan selalu disambut gegap gempita oleh masyarakat Indonesia. Maklumlah, mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Masyarakat Indonesia memiliki banyak tradisi atau ritual khas dalam menyambut dan memeriahkan bulan istimewa bagi muslim ini. Tidak mengherankan bila bulan puasa di Indonesia selalu menjadi pengalaman yang berkesan dan dirindukan.
Inilah 12 tradisi unik dalam rangka menyambut dan memeriahkan kedatangan bulan puasa Ramadhan yang hanya ada di Indonesia

1. Nyadran – Jawa

ramadhan
(source: republika.com)
Nyadran atau disebut juga Nyekar, merupakan tradisi khas masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika mendekati bulan puasa Ramadhan. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta yaitu sraddha yang berarti keyakinan.
Masyarakat Jawa memaknai Nyadran dari kata sadran yang berarti ruwah sya’ban. Yaitu, bulan sebelum Ramadhan datang yang ditandai dengan tradisi membersihkan makam keluarga dan kerabat. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi nyadran masih banyak dilakukan. Areal makam umum ramai oleh keluarga yang datang untuk membersihkan makam-makam keluarga atau orangtua mereka, menaburkan bunga dan berdoa.
ramadhan
(source: seputaraceh.net)
Meugang merupakan tradisi khas masyarakat Aceh yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam di masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Ketika itu Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat, menjelang kedatangan Ramadhan.
Masyarakat Aceh menggelar tradisi Meugang selama tiga kali dalam setahun, yaitu saat Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Menyambut Ramadhan, tradisi Meugang berlangsung satu hari sebelum Ramadhan di areal pedesaan. Sedangkan di Aceh perkotaan, Meugang berlangsung dua hari sebelum bulan puasa.
Dalam tradisi ini, masyarakat Serambi Mekkah akan memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu sebagai bentuk rasa syukur selama 11 bulan mencari nafkah.
Selain kambing dan sapi, ayam dan bebek juga ikut disembelih. Daging dimasak dirumah, setelah itu masyarakat Aceh berbondong membawa hidangan ke mesjid untuk dimakan bersama-sama tetangga.

4. Perlon Unggahan – Banyumas, Jawa Tengah

ramadhan
(source: tempo.co)
Perlon Unggahan adalah tradisi khas masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, yang sudah berlangsung sejak beberapa abad silam. Tradisi ini berlangsung seminggu sebelum kedatangan bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah.
Ritualnya berupa ziarah kubur leluhur yaitu ke makam Bonokeling tanpa alas kaki sambil mengusung nasi ambeng. Pengikut adat ini berjalan kaki hingga 30 kilometer dari Cilacap, melintasi perbukitan yang memisahkan Banyumas dan Cilacap.
KTA
Di makam Bonokeling tersebut, enam Kasepuhan berdoa, yaitu Kasepuhan Kyai Mejasari, Kyai Padawirja, Kyai Wiryatpada, Kyai Padawitama, Kyai Wangsapada, dan Kyai Naya Leksana. Setelah itu, diadakan makan besar yang diramaikan oleh warga sekitar.
Dalam tradisi ini, tersedia banyak makanan tradisional seperti nasi bungkus, serundeng sapi dan sayur kuah. Masyarakat biasanya berebut makanan-makanan itu dan meyakini makanan tersebut akan menambah keberkahan di bulan puasa.

5. Malamang – Minangkabau, Sumatra Barat

ramadhan
(source: tempo.co)
Tradisi malamang atau membuat lemang menjadi ritual khas masyarakat minang di Sumatra Barat menyambut kedatangan bulan puasa. Malamang berarti membuat lemang, yaitu makanan dari beras ketan yang dimasukkan ke buluh bambu beralas daun pisang. Lalu, lemang itu disiram santan dan dipanggang dengan kayu bakar hingga beberapa jam. Kegiatan membuat lemang inilah yang disebut malamang.
Malamang menjadi tradisi khas masyarakat Sumatra Barat ketika menyambut hari-hari penting dalam kalender Islam. Lemang biasa disajikan dengan tapai sipuluik yang terbuat dari beras ketan hitam atau merah.

6. Balimau – Minangkabau, Sumatra Barat

ramadhan
(source: wego.com)
Masih dari Sumatra Barat. Menyambut bulan Ramadhan, masyarakat Minangkabau memiliki ritual Balimau yaitu tradisi mandi memakai air jeruk nipis yang dilakukan di kawasan dengan aliran sungai atau tempat pemandian.
Tradisi ini dilatarbelakangi keinginan untuk membersihkan diri lahir batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Mengapa memakai jeruk nipis? Ini tidak terlepas dari tradisi berabad silam di mana ketika itu masyarakat belum mengenal sabun seperti saat ini. Sehingga, jeruk nipis atau limau menjadi pilihan membersihkan diri.

7. Kirab Dandhangan –  Kudus, Jawa Tengah

ramadhan
(source: solopos.com)
Tradisi unik menyambut kedatangan bulan puasa ini berlangsung di Kudus, Jawa Tengah. Kirab Dhandhangan mengacu pada tradisi di masa Sunan Kudus masih ada, yaitu ketika para santri beliau berkumpul di depan mesjid Al Aqsha atau Mesjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa.
Setelah diumumkan keputusannya oleh Sunan Kudus, beduk di mesjid pun ditabuh dan dari sanalah istilah Dhandhangan lahir. Akhirnya, lambat laun ritual pengumuman itu menarik banyak pedagang untuk membuka lapak dagangan. Kini, ritual tersebut menjadi semacam kirab budaya yang dimulai sejak dua pekan sebelum puasa dan berakhir pada malam hari menjelang sahur pertama.

8. Nyorog – Betawi

ramadhan
(source: tripvisto.com)
Ini adalah tradisi khas masyarakat Betawi. Nyorog merupakan tradisi membagikan bingkisan makanan pada keluarga yang lebih tua seperti Bapak, ibu, mertua, paman, kakek atau nenek. Kebiasaan mengirimkan bingkisan ini masih berlangsung sampai sekarang walau isi bingkisan sudah berubah mengikuti perkembangan zaman.
Bila dahulu isi bingkisan adalah makanan matang seperti sayur atau lauk, kini berganti dengan mengirimkan bingkisan berisi biskuit, kopi, gula, sirup, dan lain-lain. Bagi masyarakat Betawi, tradisi Nyorog ini bermakna sebagai tanda saling mengingatkan bahwa Ramadhan akan segera tiba, juga sebagai cara mempererat silaturahmi.

9. Gebyar Ki Aji Tunggal – Jepara, Jawa Tengah

ramadhan
(source: youtube.com)
Ini adalah tradisi yang berlangsung di Jepara, Jawa Tengah, setiap menyambut Ramadhan. Kegiatan Gebyar Ki Aji Tunggal digelar untuk mengingatkan masyarakat akan kedatangan bulan suci Ramadan. Karnaval budaya ini digelar tiap bulan Sya’ban dalam kalender Islam atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa.

10. Megibung – Bali

ramadhan
(source: pancastory.blogspot.com)
Megibung adalah tradisi menyambut Ramadhan yang rutin digelar oleh masyarakat muslim di Bali. Tepatnya di Kampung Islam Kepaon, Karangasem, bagian timur Pulau Dewata. Acara Megibung digelar pada hari ke 10, 20 dan 30 hari puasa.
Tradisi ini diperkenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar abad 17 masehi. Megibung berasal dari kata gibung yang berarti kegiatan saling berbagi, duduk melingkar dan makan bersama dengan suguhan nasi dan lauk pauk di atas nampan.
Sampai saat ini, Megibung masih lestari dilakukan oleh masyarakat Karangasem terutama yang beragama Islam.

11. Malam Selawe – Gresik, Jawa Timur

ramadhan
(source: suaragresik.com)
Malam selawe merujuk pada kata selawe atau 25 dalam bahasa Jawa. Ini adalah tradisi khas masyarakat Gresik, Jawa Timur, yang berlangsung pada malam ke-25 Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Sunan Giri, salah satu dari Walisongo yang termasyhur.
Pada 10 hari terakhir bulan puasa, orang Islam meyakini bahwa malam lailatul qodar atau malam seribu bulan akan datang. Maka itu, banyak muslim yang menjalankan itikaf atau menyepi di mesjid agar lebih khusyuk beribadah. Nah, masyarakat Gresik dan sekitarnya banyak yang memilih menyepi di mesjid Giri, di daerah perbukitan di Selatan kota pantai utara Jawa itu.

Semakin lama semakin banyak orang yang datang ke mesjid Giri untuk beribadah sampai jalanan di sepanjang arah mesjid menjadi ramai. Keramaian ini mengundang kedatangan para pedagang hingga akhirnya sampai saat ini, setiap malam 25 di bulan puasa, digelar tradisi malam selawe di Gresik. Sepanjang jalan Sunan Giri ramai dikunjungi pengunjung yang mendatangi pasar kaget.
Selain malam Selawe, ada juga tradisi malam Bandengan setiap menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Malam Bandengan adalah malam di mana para petambak bandeng panen ikan bandeng dalam ukuran jumbo hingga dilelang di pasar Gresik. Ikan bandeng ini akan menjadi suguhan penutup puasa dan melengkapi hidangan khas Lebaran di kota santri tersebut.

12. Megengan – Jawa Timur

ramadhan
(source: halomalang.com)
Ini adalah tradisi khas masyarakat Jawa Timur seperti Tuban, Malang dan Surabaya. Megengan berasal dari kata megeng, bahasa Jawa yang berarti menahan. Tradisi Megengan menjadi peringatan atau penanda bahwa sebentar lagi bulan puasa akan tiba di mana umat Islam diwajibkan berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.
Tradisi megengan bisa berupa makan bersama tetangga-tetangga terdekat berupa kendurian, ziarah kubur, masak besar dan membagi-bagi ke sanak saudara dan kerabat, kenduri di mushola atau langgar. Tradisi ini menjadi salah satu jejak sejarah penyebaran Islam di Jawa yang mengakulturasi budaya masyarakat setempat atau kearifan lokal.
Itulah tradisi-tradisi unik masyarakat Indonesia ketika menyambut dan memeriahkan bulan Ramadhan. Beragam tradisi yang khas Indonesia itu menjadi bukti kesekian betapa kaya budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Selamat menyambut bulan suci Ramadan

16 Des 2016

soekarno dan rokok

Image result for soekarno merokok
Pernah suatu ketika, Presiden pertama Republlik Indonesia, Ir Soekarno marah-marah karena melihat ada puntung rokok yang terserak di dekat pos jaga Istana Negara. Bukan, bukan. Soekarno bukan anti rokok kok. Ia hanya tak suka melihat ada puntung rokok berserakan.
Image result for soekarno merokok
Karena hal itu, Ia meminta para penjaga untuk mengeluarkan bungkus rokok mereka, hendak mencocokkan puntung yang terserak dan rokok para penjaga. Hasilnya, tidak ada yang bermerek sama dengan puntung yang masih terkapar di tanah. lantas, dengan santai ia memungut puntung itu dan menaruhnya di tempat yang semestinya. Tentu sambil mengingatkan para penjaga agar tetap menjaga kebersihan.
Tidak, tidak. Bung Besar memang orang yang berapi-api, tapi Ia tak akan memarahi orang yang tidak bersalah. Ia pun tidak memerintahkan para penjaga untuk membuang puntung itu, karena Ia tahu, Ia bisa melakukannya sendiri. Sebagai pemimpin, Ia memberi contoh dengan perbuatan, bukan hanya dengan ocehan.
Cerita tadi hanyalah satu dari banyak cerita tentang Soekarno dan Rokok. Rokok dan Bung Besar nampaknya sulit untuk dipisahkan. Ia merokok bersama banyak orang. Dari Jawaharlal Nehru, Nikita Kruschev, hingga Sjahrir dan orang-orang di parlemen. Ketika itu memang gedung parlemen masih membolehkan orang untuk merokok. Mungkin itu sebabnya anggota parlemen hari ini tidak selo dan produktif seperti dulu.
Image result for soekarno merokok
Balik lagi ke Bung Besar, pernah dalam suatu perjalanan Ia kehabisan rokok. Padahal, saat itu Ia Bung Besar baru saja selesai makan. Ia berkata kepada rombongannya, “Bapak ini merokok sehari hanya dua batang. Tiap-tiap habis makan satu batang. Kok rokok saya satu kaleng yang isinya 50 batang bisa habis satu hari, itu bagaimana?”
Ternyata, rokok Bung Karno juga dihisap oleh para pengawalnya. Karena itu, rokok Bung Karno kemudian dipegang oleh ajudannya yang bernama Mangil supaya selalu utuh. Kenapa begitu, ya karena tidak ada yang berani minta rokok padanya dan karena Mangil sendiri tidak merokok.
Tak hanya itu, Mangil pun pada suatu kesempatan diminta Bung Besar untuk selalu membawa korek api. Kala itu Bung Karno berkata, “Mangil, kamu itu selalu dekat Bapak. Ibaratnya kamu harus selalu memegang baju Bapak sebelah belakang. Maka dari itu, kamu supaya selalu membawa sakarin dan korek api. Sungguh pun yang minta api itu bukan saya, tetapi orang lain. Kamu memberikan api kepada orang yang akan merokok, kamu dapat pahala.”
Image result for soekarno merokok
Begitulah Soekarno, pemimpin besar revolusi sekaligus bapak bangsa republik ini. Sebagai perokok, Ia mengenal etika dan bertanggung jawab. Tak suka Ia melihat puntung rokok berserakan, tapi juga tak segan Ia membuangnya sendiri tanpa memerintah orang lain. Dengan santai, tanpa perlu memaki.
Sebagai pemimpin, Ia adalah panutan bagi banyak orang. Menentang Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imprealisme), menjungjung tinggi kemandirian bangsa melalui Berdikari (berdiri di atas kaki sndiri), dan masih banyak lagi. Seandainya Bung Besar masih memimpin hingga kini, entah apa yang bakal dilakukan kaum anti rokok terhadapnya.  Oh iya, ada satu yang terlupa, merek 555 adalah favorit Bung besar.
Image result for soekarno merokok

PROSES PEMBUATAN KRETEK TANGAN

Image result for rokok kretek


Setiap harinya kita dengan mudahnya menikmati kretek dengan membeli di warung terdekat.  Namun bagaimana sebenarnya proses dibalik pembuatan kretek tangan,berikut kami sajikan infografis yang menggambarkan tatacara pembuatan kretek tangan.
Image result for rokok kretek


Memahami TAR dan Nikotin

Nikotin dan tar adalah dua zat yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah kita semua sudah tahu apa nikotin dan tar itu? Kebanyakan orang mendengar kedua nama ini karena santer diberitakan sebagai salah satu kandungan rokok. Ya, memang benar keduanya merupakan zat yang terkandung dalam rokok namun, tahukah anda bahwa  nikotin juga terdapat pada tanaman lain?
Image result for nikotin
Nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Pada umumnya nikotin terdiri dari karbon, hidrogen, nitrogen dan terkadang juga oksigen. Senyawa kimia alkaloid ini memiliki efek kuat dan bersifat stimulant terhadap tubuh manusia. Contoh lain dari senyawa alkaloid ini misalnya, kafein yang juga memiliki efek stimultan pada tubuh.
Related image
Selain pada tembakau, nikotin juga terdapat pada beberapa sayuran yang sering kita konsumsi sehari-hari, berikut ini saya merangkumnya dalam sebuah tabel beberapa tanaman yang mengandung nikotin dan kadarnya:
Nama TanamanRata-rata Jumlah Nikotin  perbuah
Kembang Kol3,8 gram
Terong100 gram
Kentang15,3 gram
Kulit Kentang4,8 gram
Tomat Mentah42,8 gram
Tomat Matang4,1 gram
Daun Tembakau5% per 100 gram
Sumber: food.detik.com (2012)
U.S. Congress pada tahun 1990 menyatakan, nikotin membuat tubuh merasa relaks, lebih energik dan bersemangat, atau bahkan sebaliknya. Efek ini biasanya dikenal sebagai biphase effect. Nikotin akan diserap tubuh (darah), diringi dengan pelepasan adrenalin dan penghambatan beberapa hormon.
Disamping itu, nikotin juga merangsang otak dengan membuat zat endorphin lebih banyak dari keadaan normal. Struktur kimia endorphin hampir sama dengan obat penghilang rasa sakit seperti morphine.
Efek tersebut tak hanya timbul dari rokok atau tembakau namun bisa juga dari tanaman lain yang mengandung nikotin. Hal ini tergantung pada seberapa banyak kadar nikotin yang diserap oleh tubuh. Pada kasus rokok, nikotin juga akan terlepas setelah proses pembakaran sehingga asap rokok pun masih mengandung nikotin yang bisa terhisap.
Image result for nikotin
Sedangkan, Tar adalah senyawa kimia dan kumpulan bahan kimia yang akan beredar dalam asap hasil pembakaran. Bentuk asli tar adalah cairan yang warnanya kecokelatan. Kebanyakan tar dihasilkan dari batubara. Namun, bisa juga dari minyak bumi, gambut, dan kayu.
Dalam hal ini, Tar juga dihasilkan beberapa jenis bahan konsumsi, seperti Sate atau Ayam bakar. Sebagai makanan yang tersedia akibat proses pembakaran, Sate, Ayam Bakar, maupun olahan lain yang dibakar tentu mengandung Tar dengan kadar yang beragam. Karena itu, masyarakat Indonesia kerap menyajikan olahan makanan bakar dengan acar atau lalapan.
Masyarakat Indonesia telah mengenal kebiasaan ini sejak lama. Acar maupun lalapan biasa disajikan untuk makanan dengan “faktor resiko penyakit” yang cukup tinggi. Ini membuktikan masyarakat Indonesia secara adaptif mampu mengurangi faktor resiko dari makanan-makanan enak agar tetap bisa disantap.
Image result for nikotin
Hal ini juga ditemukan pada rokok kretek. Kretek sebagai rokok yang khas Indonesia juga menggunakan cengkeh sebagai campuran bahan baku. Tentu perlu diketahui jika cengkeh memiliki manfaat untuk kesehatan. Karena itu, cengkeh menjadi semacam lalapan bagi sajian rokok.
Saat menjalani kehidupan, nikotin dan tar memang jadi senyawa yang tidak bisa kita hindari. Terutama nikotin karena merupakan zat alami yang ada pada tanaman. Perlu bijak menanggapi zat-zat yang dapat menjadi faktor risiko pada tubuh ini, jika memang tak mungkin dihindari konsumsilah secara bijak. Pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, bukan?

Wanita indonesia juga berhak Merokok


Hidup di Indonesia sebagai perempuan dan perokok adalah sebuah dilema. Pertama kami adalah perempuan, kedua kami juga perokok. Pada generasi ibu-ibu kami, kami diberitahu bahwa perempuan yang merokok adalah tabu, perempuan yang merokok adalah pelacur, perempuan yang merokok adalah perempuan yang tidak baik. Maka dari itu ketika kami merokok di depan umum, semua orang memandang kami dengan sebelah mata.
Ketika seorang laki-laki merokok di Indonesia, hal ini dipandang lumrah dan dipandang sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya kami. Perempuan yang merokok tidak memiliki tempatnya dalam tatanan sosial kami. Perempuan yang merokok dianggap aneh, dianggap nyeleneh. Padahal kebanyakan dari produksi kretek di negara kami, semua dilinting satu per satu oleh tangan buruh rokok kretek yang cekatan dan hampir semuanya perempuan.

Namun di generasi nenek-nenek kami, banyak perempuan yang merokok. Mereka merokok karena merokok adalah sebuah pilihan. Mereka merokok karena itu adalah bagian dari budaya mereka. Mereka tidak terbebani denganpencitraan mengenai rokok dan perempuan. Mereka tidak dicekoki dengan PEREMPUAN BERBICARA KRETEK nilai-nilai bias yang sempit akan kebaikan dan keburukan di balik kebiasaan merokok. Merokok bagi mereka adalah sebuah pilihan yang natural.
Selain cerita versi Haji Djamahari, salah satu cerita lainnya adalah bahwa rokok kretek pertama kali diracik oleh seorang perempuan bernama Mbok Nasilah pada tahun 1870-an di Kudus, ia mencampur tembakau dengan cengkeh dan membungkusnya dengan daun jagung kering (kelobot). Niat pertamanya menyediakan rokok kelobot adalah untuk mengurangi kebiasaan nginang (mengunyah sirih) yang mengotori warungnya. Racikannya disukai oleh para pelanggannya. Salah satunya adalah Nitisemito yang kemudian menikahi Mbok Nasilah. Pasangan suami istri ini kemudian bersama-sama mengembangkan racikan Mbok Nasilah hingga menjadi salah satu industri kretek pertama di Kudus, Bal Tiga pada 1914.

Sampai hari ini industri rokok kretek menyumbangkan penghasilan terbesar untuk perekonomian negara ini. Industri rokok kretek menjadi tumpuan banyak keluarga dan khususnya dengan kepala keluarga perempuan. Tenaga yang terlibat langsung dengan industri kretek sebesar 6,1 juta orang. Adalah tidak adil jika hanya menilai kebiasaan merokok kretek sebagai sesuatu yang tidak baik semata, ketika industri rokok nasional adalah tumpuan roda perekonomian bangsa. Tumpuan begitu banyak orang. Kita juga harus mulai menyadari peran perempuan dalam sejarah perkembangan rokok kretek di Indonesia menempati posisi yang cukup vital.
Persoalan pilihan konsumsi rokok harusnya berdasarkan hak mendasar seseorang ketika memutuskan untuk mengkonsumsi sesuatu dan persoalan ini terlepas dari gender. Menjadi perempuan di Indonesia seolah-olah kita tidak memiliki kebebasan bahkan untuk memilih sesuatu yang merupakan hal yang biasa saja bagi laki-laki. Saya terganggu dengan pencitraan perempuan merokok dalam generasi saya, ketika di generasi nenek saya hal itu adalah hal-hal yang biasa aja. Saya pun lelah dengan pencitraan perempuan yang tipikal berkembang di masyarakat. Beban-beban yang harus kami tanggung seolah berlipat ganda. Banyak dari kami menjadi tumpuan keluarga, banyak dari kami harus memilih antara keluarga atau karir, banyak dari kami harus tampil sempurna. Kami harus serba bisa dalam berbagai hal, dan hal kecil seperti merokok bisa begitu saja menjatuhkan seluruh citra kami di mata masyarakat.

Saya mencoba merunut lagi pada pemosisian perempuan dalam sejarah politik negara ini. Saya mencoba mencari lagi sosok-sosok perempuan yang begitu beragam dan mengagumkan. Bukan produk massal yang kesemuanya seragam, semuanya sama dan membosankan. Kami mual dengan standar kecantikan perempuan berkulit putih, berambut panjang lurus dan selalu tersenyum seolah segalanya akan selalu baik-baik saja seperti yang tampil setiap sekian menit di saluran televisi nasional. Kami, perempuan, punya kehidupan yang lebih dari hanya semua itu. Kami berhak menentukan diri kami sendiri.
Saya banyak menemukan sosok-sosok yang menarik dari perempuan yang memilih merokok. Bagi generasi saya, sepertinya merokok identik dengan simbol pemberontakan. Kami lelah untuk berakting sebagai anak-anak manis, kami adalah anak-anak jaman yang menuntut perubahan. Runtuhnya Orde Baru adalah salah satu momen perubahan yang cukup besar dalam hidup kami semua. Saya pikir pada akhirnya momen ini menuntut perubahan yang besar dalam pola pikir kehidupan kami sehari-hari.
Banyak dari masyarakat kita yang langsung memandang miring perempuan yang merokok. Mereka tidak pernah mempertanyakan semua hal yang terjadi di balik perempuan yang memilih merokok. Mereka hanya berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang tidak pantas dan tidak lebih dari itu. Padahal banyak hal dapat digali dari seorang perempuan yang memilih untuk merokok. Dalam tekanan kultural yang memandang negatif perempuan yang merokok, merokok di depan umum bagi seorang perempuan membutuhkan tingkat keberanian yang lebih.

Maka dari itu saya menemukan banyak perempuan yang berani dengan identitas mereka sendiri, banyak yang menyatakan bahwa merokok baginya adalah sebuah simbol pemberontakan dan pembebasan. Banyak dari mereka menyatakan bahwa mereka memiliki kebutuhan yang sama dengan para laki-laki. Bahwa merokok menenangkan mereka dan menjadi bagian dari pilihan hidup mereka. Kebanyakan dari mereka masa bodoh dengan pencitraan negatif dan mereka hanya menganggap anggapan-anggapan miring itu sebagai sesuatu yang tidak penting.
Pencitraan mengenai perempuan yang baik di Indonesia pernah sangat dipengaruhi oleh negara. Pada masa Orde Baru, perempuan tak boleh lagi berkumpul, berorganisasi, berdiskusi dan memperjuangkan haknya sendiri. Berpolitik bagi perempuan menjadi tabu. Berpolitik sama dengan cap seorang Gerwani, yang telah menjadi hantu menakutkan dalam ingatan sejarah bangsa ini. Politik telah menjadi wilayah di mana perempuan sepenuhnya dipinggirkan. Peran aktifnya dengan sistematis dihilangkan dan tidak lagi memiliki peranan dalam menentukan kebijakan.
Perempuan di Indonesia telah kehilangan haknya untuk bicara, untuk bersuara bagi diri mereka sendiri, bahkan kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang baik bagi diri mereka sendiri. Saat ini perempuan menjadi bulan-bulanan bagi politik pencitraan global. Nilai-nilai standar mengenai perempuan seolah-olah hendak distandarkan dalam target konsumsi perusahaan-perusahaan multinasional.
Perempuan Indonesia tidak lagi bangga dengan kecantikan natural yang dimilikinya. Tidak lagi bangga dengan keberagaman yang mereka miliki. Kesadaran bahwa mereka terdiri dari berbagai suku, memiliki kecakapan bahasa yang berbeda, memiliki susunan genetika yang berbeda dan secara kultural juga berbeda telah terkikis oleh arus global. Seolah-olah semua standar kecantikan perempuan ditentukan oleh yang tersaji di televisi. Standar kehidupan juga ditentukan oleh bentuk konsumsi yang ditawarkan oleh televisi, walaupun mereka tidak membutuhkannya. Tanpa bentukan dan dasar pemikiran kritis, serangan-serangan ini menjadi sesuatu yang fatal dalam perkembangan masyarakat kita.
Celakanya lagi peran perempuan menentukan pembentukan keluarga. Perempuan menempati posisi yang sangat vital dalam pembentukan mental generasi-generasi baru tanpa edukasi dan kesadaran yang cukup, ketika perempuan tidak sanggup menyaring serangan-serangan budaya konsumtif global, seluruh pembentukan nilai dasar dalam keluarga akan terancam. Generasi yang tumbuh hanya akan menjadi pengkonsumsi dan kehilangan daya kreatif kehidupan mereka. Masyarakat kita akan tumbuh menjadi masyarakat yang semakin instan, menerima mentah-mentah apa yang dicekoki kepada mereka dan tumbuh menjadi orang-orang yang sungguh picik.
Dalam persoalan kretek, serangan kampanye anti tembakau menyerang target mereka pada perempuan dan anak-anak. Sedangkan studi-studi mengenai fakta-fakta kesehatan belum sepenuhnya dapat dibuktikan kebenarannya. Studi-studi ini masih didominasi dengan banyak kepentingan dari industri farmasi dan pendanaannya difasilitasi oleh perusahaan-perusahaan yang berkepentingan. Maka dari itu kita harus menjadi lebih kritis dalam mempelajari fakta-fakta yang muncul di lapangan, mencari dan melakukan studi tandingan. Ada etika-etika tertentu dalam kebiasaan merokok, namun bukan berarti seorang perokok patut diperlakukan seperti seorang pesakitan dan tidak manusiawi. Pilihan tetap berada dalam tempatnya dan bukan menjadi ajang pengucilan yang membabi buta.
Perempuan juga berhak merokok tanpa harus dinilai dengan buruk. Hal ini sungguh mendasar untuk masyarakat kita agar menjadi lebih kritis dalam segala sesuatu. Masyarakat kita harus belajar untuk tumbuh dalam cara berpikir yang hanya hitam putih dan tidak berdasarkan hanya asumsi dangkal semata. Kita harus mau melihat lebih jauh sebuah persoalan dan tidak langsung menilainya baik atau buruk begitu saja. Dengan memiliki kesadaran akan adanya proses perjalanan sejarah mengenai peran perempuan dan juga sejarah mengenai kretek, kita tidak akan begitu saja mencap segala sesuatu.
Image result for merokok
Kebiasaan mencap ini pernah menemui titik fatalnya pada periode awal kekuasaan Orde Baru. Jutaan orang meninggal dan hilang hanya karena cap komunis. Negeri kita tumbuh dengan trauma politik yang amat besar. Kebiasaan ini harus kita hilangkan. Kita harus berani berpikir kritis dan melihat melampaui persoalan hanya sebatang rokok kretek. Di dalamnya banyak sekali nilai-nilai kultural, sosial dan ekonomi. Belum lagi persoalan kepentingan perpolitikan ekonomi global yang harus kita pahami dengan baik untuk menjadi bangsa yang maju dan tidak lagi mau dibodohi dengan jargon-jargon liberalisasi perdagangan bebas.
Saya memimpikan suatu hari yang lebih tenang bagi saya untuk merokok tanpa adanya lagi picingan mata yang memandang sebelah mata, melainkan diskusi-diskusi kritis yang menghasilkan solusi-solusi kreatif dalam kehidupan masa depan bangsa ini.
*Tulisan karya Astrid Reza ini diambil dari buku Perempuan Bicara Kretek